Beli kambing bayar sapi = Negative Amortization

In God we trust; all others must pay cash – American saying

Kartu kredit adalah kenyamanan jaman modern, praktis, relatif aman, sehingga kita tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar. Sayangnya, saya agak jengah dengan berbagai tawaran kartu kredit baik lewat telepon maupun para perusahaan outsourcing yang kerjanya nyegat orang di pusat2 perbelanjaan. Cara mereka sudah kelewatan dengan sedikit memaksa orang menjadi anggota hanya dengan iming2 sebuah boneka sebagai gift. Coba perhatikan, saat kita sudah melaksanakan pembayaran di kasir, mereka akan langsung mendekati kita dan main tembak, “pak kartu kredit, syaratnya hanya KTP saja”. Saya sih boro2 menjawab, jalan saja terus pura2 tidak melihat sampai mereka juga jadi jutek. Kadang kasihan sama sales2 itu, tapi semua orang tahu bahwa kartu kredit adalah musuh yang membuat dunia semakin sempit kala kita terjerat lilitan hutang mereka, dan saya sudah sering menyaksikan betapa kejamnya para debt collector yang digunakan oleh para penerbit kartu kredit.

Ini daftar kesalahan konsumen :

  1. Siapa sih yang pernah membaca dan memahami persyaratan aplikasi kartu kredit ? Pertama hurufnya sengaja dibuat kecil2, kedua bahasanya legalistik yang sulit dipahami oleh orang awam termasuk saya, ketiga, memang segaja dibuat seperti itu agar klausul2 yang memberatkan konsumen tidak diketahui.
  2. Minimum payment membuat bank senang. Full payment bank merugi karena hanya berfungsi sebagai intermediary. Maklum perlu waktu belasan hingga puluhan tahun untuk melunasi hutang dengan cara pembayaran ini. Kalau tidak percaya, silakan hitung dengan berbagai rumus matematika ekonomi, hasilnya paling tidak perlu waktu 15 tahun sampai hutang kita lunas !
  3. Perusahaan kartu kredit bisa menaikan bunga tanpa sepengetahuan konsumen sesuai dengan klausul kredit yang tidak pernah kita baca. Saat mengajukan aplikasi bunganya ditentukan 2.5%, tapi enam bulan kemudian bank menaikan secara sepihak bunga menjadi lebih tinggi. Penting, sekali telat membayar atau melakukan pembayaran minum, mereka akan langsung men-charge kita dengan bunga tinggi, istilah Annual Percetage Rates atau APR belum diterapkan secara resmi di Indonesia, tapi …
  4. Kartu kredit digunakan untuk berhutang atau mengambil uang tunai. Selamat! Anda akan menikmati bunga minimal 4% perbulan atau hampir separuh pinjaman adalah bunganya kalau dibayar selama setahun.
  5. Transaksi di luar negeri lebih riskan apalagi di hotel2. Pertama pihak hotel akan mengenakan kurs “aneh”, kedua bank juga akan men-charge dengan kurs yang lebih tinggi lagi. Double jeopardy.
  6. Aplikasi hanya dengan menggunakan KTP yang seperti di mall2 punya rate bunga yang khusus, maklum kadang2 bank terutama kelas gurem main tembak tanpa melakukan verifikasi gaji terlebih dahulu. Jadi yang penting jumlah member
  7. Semakin bagus pembayaran semakin banyak tawaran pinjaman dengan bunga rendah yang seolah-olah menarik. Bila bayarnya bagus, bunganya tidak berbuah, tapi sekali default bunganya akan beranak dan berbuah lagi. Compunding interest istilahnya.
  8. Negative amortization. Istilah lain di dunia akuntansi keuangan artinya jumlah bunga yang kita bayarkan melebihi dari jumlah pinjaman akibat pembayaran telat dan/atau minimum payment. Di Amerika sudah diperjuangkan oleh YLKI di sana sebagai praktek ilegal, tapi lobi perusahaan kartu kredit di Washington terlampau kuat. Ini intreviewnya di televisi PBS.
  9. Terbujuk transfer hutang ke bank penerbit lain. Sepertinya tawaran yang menggiurkan, tapi banyak yang terjebak setelah mengetahui jumlah hutangnya justru membengkak gara2 biaya2 siluman yang tidak dijelaskan saat penawaran.
  10. Debt collector itu kejam. Pertama di telepon baik2, kalau masih ngemplang mulai mendatangai kantor, marah2 lewat telepon, email, fax, sms, dengan berbagai bahasa ABB (anj***, ba**, bang***). Mereka akan meruntuhkan pride penghutang, menakuti secara psikologis, merampas kenyamanan hidup, hingga kadang sampai terjadi bentrokan fisik.

Perlu kedewasaan dalam menggunakan uang plastik ini karena banyak yang lupa bahwa fungsi sebenarnya adalah pengganti pembayaran tunai dan bukan alat untuk berhutang. Kalau berhutang ya akan ditagih, jadi jangan selalu menyalahkan bank saat kita sudah default dan melarikan diri dari tanggung jawab akibat terlena oleh uang plastik ini. Salam.

Foto dari : moneywalks.com

About these ads

Tags: , ,

11 Responses to “Beli kambing bayar sapi = Negative Amortization”

  1. therry Says:

    Hehehe.

    Bikin kartu kredit emang gampang – giliran nagih, garang!

    LOL

    Saya udah beberapa kali ditawarin bikin kartu kredit, tapi males ah. Namanya aja udah bikin males; “kartu kredit”, berarti nanti bayarnya ngredit!! Artinya ya “ngutang”!

    Mendingan kartu debit aja; kalo ada duit ya bisa bayar, ngga ada ya mimpi aja kali yee :)

    Iya Therry, godaannya gak tahan, kadang wants sama needs jadi gak jelas. Maklum saya juga sering jadi impulsive buyer, tapi saya setuju mending kartu debit saja daripada ngutang toh :)

  2. chocoholic Says:

    mas,
    di indo pas menggunakan kartu kredit masih kena charge? itu yang saya bingung, pas sampe sini dan bikin kartu disini, gak ada tuh charge2 semacam itu.. aneh bgt di indo, udah bunga juga tinggi, ada charge lagi dsb.

    apalagi kalo dah urusan dc itu.. nyeremin, kalo masih kena teriakan abb sih gpp, kalo dah bawa celurit, nah itu nyeremin, emang kita sapi mo digorok trus disate?? lol

    Masih Rima, chargenya bisa sampe 750 ribu pertahun untuk iuran tahun. Charge lain adalah 3% untuk di merchant2 tertentu, kan ngaco itu.
    Yang lebih gila Rima, ada anak debitor yang disandra sampai jadi urusan polisi. Udah gila tuh para DC. Kebetulan kantorku deket sama bank yang sering pakai jasa mereka. Kalau lagi pada ngobrol, duuh serem kalau denger cara mereka beraksi.

  3. Elyani Says:

    Mas Ton,

    Kartu kredit saya dari dulu sampai sekarang masih yg standard, dengan limit pembelanjaan max. 5 juta. Sudah beberapa kali ditawari pihak bank untuk dinaikkan limitnya, tapi saya keukeuh gak mau. Pembayaran selalu full payment sebelum jatuh tempo. Ini sudah kebiasaan dari sejak pertama punya hingga sekarang. Kartu yg satunya lagi kebetulan kartu tambahan dari yayang-ku di luar sana (luar angkasa kali ya…hehehe), tapi saya selalu ijin dulu kalau mau pakai untuk belanja yg agak mahal. Contohnya ya untuk si 450D nanti. Itupun saya akan menanggung sebagian dari lensa yg saya inginkan, karena kalau saya bilang budget yg saya perlukan sekian, saya tidak akan minta lebih dari itu.

    Sejauh ini saya belum ngalamin diteror DC. Tapi adik saya pernah bikin saya marah2 dan akhirnya harus menguras tabungan untuk membantu mbayarin kartu kredit dia, karena dia telat bayar. Gara2 masalah ini kami sempat gak ngomongan, tapi dia juga jadi kapok dan belajar dari kesalahan-nya tersebut.

    Yg belum kesebut diatas, jangan mau dijadikan referensi sekalipun dari anggota keluarga sendiri kalau kita tidak mau ketiban masalah. Sudah banyak cerita orang diteror tanpa tau atau merasa pernah memberi ijin alamatnya untuk dihubungi bila si pengguna kartu kredit tidak bisa dihubungi.

    Kadang heran sama bank yang maksa naikin limit saya juga padahal dananya gak utilize. Minta di downgrade malah diketawain sama mereka, katanya biar aja sebagai dana cadangan. Wuih.
    Debt collector itu memang profesi rada2 (rada gila maksudnya) :D

  4. uwiuw Says:

    bukankan ini tanda itikad buruk bank bank yg meyediakan kartu kredit. Mengapa praktek bisnis semacam ini bisa langgeng ?

    Tidak sepenuhnya salah bank karena seringkali konsumennya juga kebablasan. Salam Bakawan. :)

  5. Finally Woken Says:

    Sebagai orang yang pernah ngeliat sendiri para petugas yang kerja di bagian collection (a.k.a bagian nelpon bilang, ‘bapak, tagihan kartu bapak sudah melebihi batas lho’), saya suka kasihan aja melihat mereka. Mereka kan punya standard prosedur (buku), dan percakapan direkam jadi sekesal apapun dengan nasabah mbalelo, mereka musti sabar. Dan gitu-gitu mereka bukan staff dari bank yang bersangkutan, mereka tenaga kontrak (jadi ga dapat benefit & allowance), ID cardnya aja keren, padahal dari warna background foto kita bisa tau kog mereka beda ‘kasta’.

    Terakhir saya bikin kantor buat si merchant bank ini, beberapa lantai dibuat hanya untuk collection, lengkap dengan ruangan yang namanya ‘dealing rooms’ yang maksudnya ruangan untuk menerima nasabah yang ngamuk-ngamuk mengenai tagihan mereka (ruangannya kedap suara dan ditaruh dekat satpam hehehehe).

    Kalo mengenai extra charge 3% itu, aduuuh udah cape deh ngomongnya. Para bank kan juga bolak-balik bilang toko-toko gak boleh ngecharge konsumennya, karena itu servis yang harus dibayar oleh pemilik toko karena menyediakan jasa pembayaran pakai kartu, tapi, susah deh…

    Trimakasih tambahan infonya mengenai bagian collection Mbak Nit. Adik saya yang kebetulan juga bekerja di bank share informasi betapa “menderitanya” mereka. :)
    Mungkin semua bank menyediakan ruang kedap suara untuk nasabah “special” tersebut. Duuh kalau saya sih harus polisi gak mau satpam deh.
    Nah yang 3% koq rasanya semakin merajalela terutama untuk para merchant2 kecil. Dalihnya macam2, seringkali disebut kebijakan bank yang bersangkutan. Citibank bagusnya mengembalikan biaya charge tsb bila disertai bukti, tapi bank yang lain wassalam.
    Enjoy your weekdays there. :)

  6. treestyara Says:

    Mas Toni,
    Saya pernah ditawari kartu kredit tambahan untuk anak saya yang baru 12 tahun. Kalaupun memungkinkan…saya ga akan setuju anak saya pegang kartu kredit sendiri di usia yang masih muda. Kartu kredit yang saya punya aja udah siap-siap mau saya kembalikan…koq mau ditambahin lagi..

    Duh masih muda sudah ditawarin ya Mbak?

  7. jmzach Says:

    Thanks untuk pencerahannya. Wah untungnya di point nomor 5,masih ada jalan lain yaitu bila kantor mau menerima discrepancy claim bila mmg ada selisih.

  8. Pus2Meong Says:

    Pengalaman lagi nih, temen gue kena biaya siluman sebesar 250 rupiah per dolar buat Master Card BCA nya. Ceritanya dia pake CC dia buat bayar gue dengan paypal, waktu transaksi kursnya 9300. Empat hari kemudian gue minta dia nelpon CS BCA buat tanya berapa statement transaksinya, si CS bilangin jumlah yang sesuai ama kurs (sebenernya beda sih, tapi dikiiiiiiiit, ga sampe 10 rupiah per dolar). Eeeh pas biling statement di kirim, dia kaget yang dipake adalah 9550 per dollar. Gue cek deh kurs hari itu ternyata masih dibawah 9400. KURANG AJAR bener, dan ternyata bukan cuma temen gue yang kena masalah ini, bahkan orang lain itu malah di ping-pong ama CS nya disuruh nelpon sana-sini, ampuuuuun.

    Sebenernya ga masalah, tapi selisih 250 itu ga ada kejelasannya buat apa. CS bilang itu pake rate Master Card International, tapi ga ada tuh di situsnya.

    Oh satu lagi tips, jangan melunasi full tagihan karena kena biaya materai 3000 rupiah. MISALKAN tagihan 1 juta, bayar aja 999.990 rupiah, bunga 4% dari 10 rupiah emang berapa sih?, ehehehehehe…. Bulan berikutnya juga gitu, selalu bayar dengan menyisakan beberapa rupiah aja. Bisa hemat-hemat dikit kan? Duit jaman sekarang susah dicari lho.

  9. antiriba Says:

    Mas, saya korban krtu kredit dan korban bank. Sekarang lagi tobat, dan sedang berjihad untuk membayar hutang-hutang saya. Yang masih punya kartu kredit, sebaiknya segera dilunasin dan segera kontak ke bank untuk tidak diaktifkan lagi. Waspada-waspada…..jangan tergiur rayuan bank. Salesnya sih enggak salah kalau menurut saya, mereka juga korban seperti saya. Kesalahan mereka kalau bisa cari kerjaan lain, jangan jadi sales kartu kredit. Yang jadi dalangnya khan ya Bapak-Bapak Terhormat Berdasi Yang Duduk Di Belakang Meja. Para CEO di Bank-Bank. Jadi dendam nih. Mudah-mudahan Bapak-Bapak Terhormat itu juga mikir, dan insyaf.

  10. dewi Says:

    debt collector citi bank ada yang baik, tapi banyaknya ga punya prikemanusiaan, nagih orang yang lagi sakit aja nyerocos kaya bebek….. padahal umurnya udah 64 tahun, mau kabur kemana? cuma minta waktu 2 bulan aja, toh bunga tetep jalan !!!

  11. budejenong Says:

    hati2 dengan bank niaga, kolektornya kayak anjing gila, telat bayar 15 hari udah nelpon sampe ke keluarga gitu, udah gitu nelponnya persis kayak minum obat sehari tiga kali. Giliran udah lunas mau tutup di persulit…iiiihhh karena guepernah pengalaman pake kk niaga seumur hidup gue kagak bakalan mau lagi berhubungan denga bank niaga baik pinjaman ataupun dalam bentuk tabungan, ih pokoke amit2 deh.

Comments are closed.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 93 other followers

%d bloggers like this: